Tampilkan postingan dengan label Astronomi Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi Info. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juni 2011

PESONA GERHANA BULAN TOTAL (TOTAL LUNAR ECLIPSE)


Gerhana bulan terlihat di Belgrade, Serbia, 15 Juni 2011. Foto: AP Photo/ Marko Drobnjakovic



Serang pria berjalan dengan latar belakang gerhana bulan di Belgrade Serbia, Rabu, 15 Juni 2011. Foto: AP Photo/ Marko Drobnjakovic



Gerhana bulan total terlihat di Karachi, Pakistan, 15 Juni 2011. Foto: AP Photo/Shakil Adil



Gerhana bulan total telah berlangsung dan terlihat indah di sejumlah tempat di dunia, Kamis, 16 Juni 2011. Tahun ini akan terjadi dua kali gerhana bulan total, gerhana berikutnya akan terjadi InsyaALLAH pada tanggal 10 Desember 2011.

Total lunar eclipse took place and looks beautiful in some places in the world, Thursday, June 16, 2011. This year will be twice the total lunar eclipse, the next eclipse will occur, InsyaALLAH , on December 10, 2011.



Gerhana bulan total terlihat di Chisinau, Moldova, 15 Juni 2011. Foto: AP Photo/John McConnico




Gerhana bulan total terlihat di Manila, Filipina, 16 Juni 2011. Foto: AP Photo / Bullit Marquez



SUBHANALLAH, MAHA SUCI ALLAH YANG TELAH MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA INI NAN INDAH.

Selasa, 04 Januari 2011

Halo Matahari Bukan Pertanda Bahaya

Bandung - Di kalangan astronom, lingkaran besar yang mengelilingi matahari dan terlihat seperti pelangi dikenal sebagai fenomena halo. Peristiwa di langit yang jarang terjadi itu bukanlah pertanda bahaya.

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan, fenomena halo disebabkan oleh kristal es di awan Cirrus yang membiaskan cahaya matahari seperti prisma. Cahaya yang terurai tampak membentuk cahaya pelangi yang melingkari matahari.

"Warna hitam di antara matahari dan cincin hanya akibat efek kontras saja," katanya, Selasa (4/1).

Jarak cincin dengan matahari kira-kira sejengkal tangan orang dewasa. Tak cuma terjadi siang hari ketika matahari bersinar, kata Djamaluddin, fenomena halo juga bisa terjadi saat malam hari ketika muncul bulan purnama.

Dalam kondisi yang sangat dingin, kristal-kristal es bisa terbentuk di awan Cirrus. Ketinggian awan itu sekitar 10 kilometer di atas permukaan bumi. Wilayah yang kebetulan sinar matahari atau bulannya terhalang oleh awan Cirrus tersebut akan melihat fenomena halo.

Cincin cahaya itu kadang bersifat lokal. Contoh di Bandung beberapa waktu lalu, fenomena halo terlihat sekitar pukul 11.30 di wilayah Cimahi-Padalarang. Adapun warga Kota Bandung baru kebagian menyaksikannya pada pukul 13.00. "Karena kondisi relatif cerah yang menyisakan awan cirrus tidak selalu menampakkan halo," katanya.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di Padang pada Kamis, 21 Oktober 2010 saat hari relatif cerah dengan awan tipis di langit. Menurut Djamaluddin, fenomena halo bukan pertanda gempa atau bencana lainnya. Pada masa pancaroba sekitar September-Oktober-November serta Maret-April-Mei, kejadian halo sering terjadi di Indonesia.

Hari ini, fenomena itu terlihat di Yogyakarta. Dimana matahari dikelilingi matahari. Sebagian orang Yogya khawatir fenomena petanda akan datangnya bahaya.

ANWAR SISWADI

Kamis, 30 Desember 2010

Hujan Meteor Hebat Diprediksi Terjadi Tahun 2011


Hujan meteor hebat diprediksi terjadi tahun 2011. Badai meteor mengancam stasiun angkasa luar internasional dan satelit-satelit seperti teleskop Hubble. Badai itu bahkan diyakini bakal menjadi badai meteor terkuat dalam lebih dari satu dekade.

Demikian peringatan dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Kamis 17 Juni 2010. NASA memperingatkan bahwa badai meteor diprediksi terjadi tahun depan dan bisa menghantam Teleskop Hubble dan stasiun angkasa luar internasional.

Para pakar astronomi NASA khawatir bahwa kumpulan serpihan komet itu akan terjadi selama sekitar tujuh jam. Tak hanya mengancam satelit dan stasiun luar angkasa, meteor itu bisa mengenai pesawat luar angkasa yang sedang mengorbit dan merusak perangkat elektronik mereka.

Ilmuwan NASA, seperti dikutip dari laman harian The Telegraph, mengatakan badai meteor tersebut akan menimbulkan tontonan visual tentang bintang. Meski demikian, ilmuwan NASA mengakui saat ini mereka belum bisa memastikan seberapa serius dampak badai meteor tersebut.

Namun, operator kendaraan angkasa luar telah diminta untuk mengembangkan mekanisme pertahanan.

NASA juga sedang menyelidiki kemungkinan memutar arah stasiun angkasa luar internasional dan teleskop Hubbel untuk memastikan area rawan tidak berhadapan langsung dengan semburan pasir.

Astronot juga dilarang melakukan "spacewalk" hingga ancaman semburan partikel angkasa luar sudah berlalu. Namun satelit, termasuk satelit penyedia layanan penting seperti komunikasi, perangkat bernavagasi satelit (satnav), dan televisi, akan tetap menghadang badai.

Dr William Cooke, pakar meteor NASA di Alabama, mengatakan berbagai rencana sedang disiapkan untuk menghindari masalah-masalah akibat badai. Dari berbagai data yang terkumpul, komputernya menyimpulkan bahwa beberapa ratus meteor per jam akan tampak dari Bumi pada 8 Oktober tahun depan.

NASA Ingatkan Badai Meteor Terbesar Dekade Ini Terjadi 2011


London - Satelit-satelit seperti Hubble Space Telescope dan Stasiun Luar Angkasa Internasional menghadapi ancaman badai meteor yang diperkirakan terkuat dalam satu dekade ini.

Hubble Space Telescope adalah teleskop luar angkasa yang dibawa ke antariksa oleh pesawat luar angkasa pada April 1990. Teleskop tersebut mengambil nama astronom Amerika Edwin Hubble.

Para astronom di Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperkirakan badai meteor yang bakal terjadi selama tujuh jam tahun depan bisa menghantam satelit di luar angkasa dan merusak peralatan elektronik di dalam satelit tersebut.

Para ilmuwan NASA mengatakan badai yang berisi puing-puing komet tersebut akan menghasilkan pemandangan spektakuler bagi orang-orang yang suka melihat bintang di angkasa.

NASA mengatakan badai yang melewati orbit bumi di sekitar matahari setiap Oktober datang dari hujan meteor yang disebut Draconids. Nama Draconids diambil karena meteor-meteor tersebut mengalir dari arah peta bintang Draco. Hujan tersebut juga diberi nama Giacobinids karena mengambil nama dari komet yang melempar mereka, Giacobini-Zinner.

Para ilmuwan di NASA mengaku belum tahu seberapa serius dampak dari badai tersebut. Tetapi para operator pesawat-pesawat luar angkasa telah diberitahu agar mengembangkan mekanisme pertahanan diri.

NASA pun saat ini sedang mempertimbangkan untuk memindahkan stasiun luar angkasa internasional dan Hubble Space Telescope ke wilayah yang kemungkinan tidak terkena badai.

Perjalanan luar angkasa juga bisa dilarang sampai ancaman badai meteor tersebut berakhir.

Selain ancaman fisik ketika badai menghantam secara langsung, gelombang medan listrik statik dari badai tersebut bisa membakar peralatan elektronik yang vital.

Intensitas badai biasanya rendah tiap tahun, tetapi bisa meningkat secara drastis setiap 13 tahun ketika bumi melewati wilayah terpadat dalam aliran tersebut.

Intensitas tertinggi terjadi pada 1933 ketika badai mengeluarkan 54 ribu meteor per jam. Sementara, pada 1946, tercatat 10 ribu meteor.

Jumlah meteor terbanyak dalam badai tersebut pada 1998 mencapai ratusan setiap jam.

Dr William Cooke dari Meteoroid Environment Office NASA di Alabama mengatakan pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipatif untuk menghindari masalah akibat badai tersebut.

Menurut prediksi dari program komputer COoke menyimpulkan ratusan meteor per jam bisa terlihat dari bumi pada 8 Oktober tahun depan.

“Sebelumnya, kami tidak mengetahui apa yang terjadi. Kini kami bisa merasa lebih lega,” ujar Cooke. “Kami sudah bekerja sama dengan program-program NASA (lainnya) untuk mengatasi risiko terhadap pesawat luar angkasa.”